Bencana banjir dan longsor besar melanda banyak wilayah di Provinsi Aceh sejak pertengahan November 2025, menyebabkan kerusakan masif serta krisis kemanusiaan.
Menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pos Tanggap Darurat Hidrometeorologi Aceh, hingga 3 Desember 2025 tercatat 305 jiwa meninggal dunia, sementara 191 orang dinyatakan hilang.
Dampaknya meluas — sekitar 326.800 kepala keluarga (KK) atau 1.599.740 jiwa warga terdampak, tersebar di 229 kecamatan di 18 kabupaten/kota.
Di beberapa daerah, misalnya Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, korban yang mengungsi mencapai puluhan hingga ratusan ribu jiwa. Di Aceh Timur, contohnya, sekitar 104.973 jiwa terpaksa mengungsi.
BACA JUGA:
Saat AHY Jadi Sasaran Ibu-ibu di Benteng Fort Willem I
Dampak Bencana: Infrastruktur, Pemukiman, dan Kehidupan Warga
-
Banyak rumah, baik di pedesaan maupun wilayah urban, rusak berat di Aceh tercatat lebih dari 2.500 rumah rusak berat akibat banjir dan longsor.
-
Sebagian besar pengungsi menempati shelter darurat seperti masjid, sekolah, gedung pemerintahan, atau tempat penampungan sementara lainnya.
-
Aktivitas ekonomi lumpuh banyak usaha kecil, pertanian, dan perdagangan terganggu karena akses terputus dan lahan terendam.
Respon Pemerintah dan Bantuan Darurat
Pemerintah daerah bersama pihak berwenang sudah merespon keadaan darurat termasuk permintaan bantuan logistik dari pemimpin daerah. Misalnya, Bupati Aceh Tamiang meminta supaya Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) segera mengirimkan kebutuhan pokok seperti makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, serta kendaraan angkut dan BBM.
Distribusi bantuan terus berjalan, meskipun medan sulit: banyak daerah terisolasi dan akses logistik terbatas. Untuk daerah yang sulit dijangkau, evakuasi dan penyaluran bantuan perlu penanganan khusus.
Kondisi Pengungsi & Kebutuhan Mendesak
Warga pengungsi menghadapi sejumlah kesulitan serius:
-
Kekurangan air bersih air sumur atau sungai tercemar lumpur akibat banjir.
-
Kebutuhan makanan, selimut, pakaian, obat-obatan, dan perlengkapan dasar sangat mendesak, terutama di shelter dengan kepadatan tinggi.
-
Banyak warga kehilangan identitas, surat-menyurat, dokumen penting, dan harta benda membuat pemulihan mental serta ekonomi menjadi tantangan besar ke depan.
Rekomendasi & Agenda Pemulihan
Untuk jangka pendek penting memastikan distribusi bantuan tepat sasaran: makanan, air bersih, obat, perlengkapan tidur & higiene, serta bantuan medis untuk korban. Para pengungsi harus mendapat akses aman ke shelter yang layak, dengan layanan kesehatan & psikososial.
Untuk jangka panjang perbaikan infrastruktur: jalan, jembatan, sistem drainase, penguatan tebing atau bantaran sungai. Pemerintah provinsi dan pusat perlu mengevaluasi kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana: potensi tanah longsor, sistem peringatan dini, dan edukasi adaptasi perubahan iklim.






