Politisi sekaligus tokoh pemerhati lingkungan, Dedi Mulyadi, menegaskan komitmennya untuk menutup seluruh aktivitas tambang yang beroperasi di lereng-lereng gunung.
BACA JUGA:
Jejak Penipuan WO Ayu Puspita: Ratusan Korban Menggeruduk
Komitmen Tegas untuk Selamatkan Alam
Banyak tambang berada di area rawan, termasuk lereng gunung yang seharusnya menjadi kawasan konservasi.
Ia menyebut bahwa penambangan di kawasan tinggi tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat.
“Lereng gunung itu bukan tempat tambang. Itu tempat kehidupan, tempat air dilahirkan, tempat hewan mencari makan. Kita akan tutup tambang-tambang di sana,” tegas Dedi.
Dampak Kerusakan Tambang di Lereng Gunung
Penambangan di lereng gunung diketahui membawa sejumlah dampak negatif, antara lain:
-
Longsor akibat labilnya struktur tanah.
-
Hilangnya vegetasi hutan yang berperan menahan air.
-
Banjir bandang dan sedimentasi sungai di wilayah hilir.
-
Turunnya kualitas air bersih bagi masyarakat.
Kerusakan ini kerap memicu bencana saat musim hujan, sehingga pemulihan kawasan menjadi prioritas.
Penegakan Aturan dan Pengawasan Ketat
Dedi menekankan perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap para pemilik tambang yang melanggar aturan.
Menurutnya, penindakan bukan hanya pada tambang ilegal, tetapi juga tambang yang memiliki izin tetapi beroperasi di zona yang tidak sesuai peruntukan.
Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Selain menutup tambang bermasalah, Dedi menilai bahwa pemulihan lingkungan harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Ia mendorong pengembangan ekonomi berbasis alam, seperti:
-
agroforestri,
-
wisata alam,
-
peternakan ramah lingkungan,
-
hingga UMKM berbasis hasil hutan non-kayu.
Model ekonomi hijau ini diyakini mampu memberikan pendapatan tanpa merusak alam.
Harapan untuk Masa Depan Lingkungan Indonesia
Dedi meyakini bahwa penyelamatan alam hari ini merupakan investasi besar untuk anak cucu.






